by

Yanto Basna, Witan Sulaeman, hingga Elkan Baggott Deretan Pemain Terbaik Indonesia

Tahun 2020 kurang bersahabat bagi sepak bola Indonesia. Mulai dari kompetisi hingga agenda Timnas Indonesia seluruh kelompok usia menjadi berantakan akibat pandemi COVID-19. Yanto Basna menjadi satu dari sedikit pemain asal Indonesia yang mampu menjaga eksistensi di kondisi seperti ini.

Yanto Basna sebagai satu dari lima pemain terbaik Indonesia pada 2020. Bek berusia 25 tahun itu berhasil tampil prima di Liga Thailand bersama PT Prachuap.

Dari 12 pertandingan Prachuap di Thai League 1 atau kasta teratas kompetisi di sana, Yanto Basna hanya absen sekali karena cedera. Sisanya, mantan pemain Persib Bandung itu mencatatkan jumlah menit bermain dengan sempurna.

Yanto Basna sudah tiga musim bermain di Liga Thailand. Khon Kae, klub divisi dua, menjadi klub pertamanya di Negeri Gajah Putih pada 2018 sebelum hijrah ke Sukothai pada 2019 dan saat ini memperkuat Prachuap.

“Saya harus bersyukur karena kompetisi di Thailand tetap berlangsung. Lalu pembayaran gajinya lancar, 100 persen pula,” ucap Yanto Basna dalam video yang diunggah akun Instagram @suporterbarbar.

Yanto Basna juga sempat mendapatkan panggilan dari Timnas Indonesia untuk pemusatan latihan di Jakarta pada Februari 2020. Sayang, bek kelahiran Sorong, Papua, itu ditepikan dalam kegiatan yang sama pada Juli 2020.

Selain Yanto Basna, ada empat nama lainnya sebagai pesepak bola terbaik Indonesia sepanjang tahun ini. Berikut rangkumannya:

Witan Sulaeman

Bermain di Eropa dan menjadi tulang punggung Timnas Indonesia U-19, begitulah highlight kiprah Witan Sulaeman di tahun ini. Winger berusia 19 tahun tersebut mengarungi pencapaian yang fantastis selama 2020.

Pada awal tahun ini, Witan menandatangani kontrak berdurasi 3,5 tahun bersama klub Seria, FK Radnik Surdulica. Dia sempat mencatatkan dua penampilan pada musim 2019/2020 sebelum kompetisi dhentikan pada Maret 2020 akibat pandemi COVID-19.

Witan juga rutin dipanggil ke Timnas Indonesia U-19 oleh pelatih Shin Tae-yong. Penampilan puncaknya terjadi pada pemusatan latihan dan rangkaian uji coba di Kroasia, Agustus-Oktober 2020.

Witan menjadi pemain paling berkontribusi untuk Timnas Indonesia U-19. Pemain asal Palu, Sulawesi Tengah ini memimpin tiga parameter statistik paling penting dalam permainan.

Pertama, Witan memimpin dalam daftar pemain tersubur Timnas Indonesia U-19. Bersama Jack Brown, ia menyumbang tiga gol.

Kedua, Witan menjadi pemain yang paling sering bermain sejak menit awal. Shin Tae-yong sepuluh kali memasangnya sebagai starter. Dia hanya sekali bermain di paruh kedua ketika Timnas Indonesia U-19 kalah 0-1 dari Bosnia dan Herzegovina U-19.

Ketiga, Witan membukukan tiga assist selama di Kroasia. Jumlah itu menjadi yang terbanyak di Timnas Indonesia U-19 bersama Bagas Kaffa.

Supremasi Witan Sulaeman di Timnas Indonesia U-19 bukan terjadi begitu saja. Dia adalah pemain paling senior secara pengalaman di tim tersebut. Sebelum tahun ini, ia bahkan lebih sering bermain untuk Timnas Indonesia U-22 dibandingkan Timnas Indonesia U-19.

Ketua PSSI, Mochamad Iriawan, sempat memberikan penilaian terhadap penampilan Timnas Indonesia U-19 di Kroasia. Witan disebutnya sebagai pemain yang paling menonjol di dalam skuad.

“Pemain belakang dari hari ke hari sudah cukup tenang. Namun di posisi gelandang, kata pelatih Shin Tae-yong, dia akan mencari posisi baru. Kiper juga sudah cukup baik namun tetap perlu ditingkatkan,” kata Iriawan pada akhir Oktober 2020.

“Sektor depan juga sudah cukup. Yang menjadi sorotan yaitu Witan Sulaeman, yang kembali dianggap punya kelebihan di antara semuanya,” jelas pria yang karib dipanggil Iwan Bule itu.

Ryuji Utomo

Sepanjang 2020, Ryuji Utomo memberikan inspirasi bagi banyak orang melalui akun Instagramnya, @ryujiutomo. Mantan bek Persija Jakarta ini tetap berlatih sangat keras di tengah penangguhan kompetisi.

Ryuji mempertontonkan bagaimana ia melakukan work out, alih-alih memamerkan kegiatan lainnya, ketika kompetisi tengah berhenti. Pemain berusia 25 tahun itu juga tidak sungkan memperlihatkan bentuk-bentuk ototnya, buah hasil dari kerja kerasnya selama tahun ini.

Latihan sungguh-sungguh Ryuji di tahun ini terbayar di pengujung 2020. Eks anggota Timnas Indonesia U-22 itu dipinjamkan Persija ke klub promosi Liga Super Malaysia, Penang FC.

Di tahun ini pula, Ryuji mulai paten di lini belakang Persija ketika kompetisi masih berlangsung. Mantan pemain Arema FC itu dipercaya menjadi tandem Otavio Dutra di jantung pertahanan.

“Yang pasti, sebagai pesepak bola profesional, saya ingin berkompetisi secara reguler dan mencari ilmu. Sebab, karier di sepak bola itu waktunya tidak banyak. Tentunya saya harus mencari jam terbang sebanyak-banyaknya, mencari pengalaman sebanyak-banyaknya,” jelas Ryuji.

“Sebagai pemain asing di negara lain, saya bisa belajar di sana. Saya bisa mengembangkan skill dan mental. Di mana pun, mindset saya telah bulat. Saya ke sana bukan untuk jalan-jalan. Tapi, saya ingin mencari ilmu, pengalaman, dan bermain sebaik mungkin.”

“Semoga Persija bisa meraih prestasi setinggi-tingginya. Semakin jaya juga. Semoga kompetisi segera bergulir kembali. Tunggu gue, gue akan kembali insyaallah dengan lebih baik lagi,” ucap bek berpostur 183 cm itu.

Elkan Baggott

Angkat topi untuk PSSI. Mereka berhasil menemukan, sekaligus meyakinkan Elkan Baggott untuk memilih Timnas Indonesia ketimbang Inggris atau Thailand.

Baggott adalah bek berpostur raksasa blasteran tiga negara. Dia lahir di Bangkok Thailand, dari ibu Indonesia dan ayah Inggris. Dia juga lama tinggal di Negeri Ratu Elizabeth.

Pada pertengahan tahun ini, PSSI mampu meminang Baggott untuk Timnas Indonesia U-19.

Baggott turut dipanggil ke pemusatan latihan Timnas Indonesia U-19 di Kroasia pada Agustus-Oktober 2020. Namun, ia baru bisa bergabung pada periode kedua alias sebulan terakhir kegiatan.

Baggott langsung menjadi tembok kokoh Timnas Indonesia U-19 dalam sejumlah laga uji coba. Penampilannya juga menuai pujian.

Baggott tidak bertahan lama di Timnas Indonesia U-19. Pada akhir pemusatan latihan, ia harus kembali ke klubnya, Ipswich Town U-18.

“Witan Sulaeman dan Baggott sejauh ini memang menjadi pemain inti dari skuad Timnas Indonesia U-19. Semoga saat mereka kembali ke klubnya masing-masing, mereka bisa menjaga level permainan,” kata Shin Tae-yong dinukil dari YouTube PSSI TV.

“Selain itu, semoga kami juga bisa menjaga hubungan baik dengan klub mereka agar pemain mendapatkan yang terbaik,” jelas pelatih asal Korea Selatan tersebut.

Saat kembali ke Ipswich Town U-18, Baggott sempat dipromosikan ke tim U-23. Saat ini, ia tampil reguler bersama skuad U-18, bahkan sempat mencetak satu dari lima gol kemenangan tanpa balas atas Chelmsford City pada babak kedua FA Youth Cup atau Piala FA Junior.

Alberto Goncalves

Saat datang ke Indonesia, Alberto Goncalves adalah kutu loncat. Dia seringkali berpindah-pindah tim setelah satu musim bermain. Namun, di pengujung kariernya, dia berubah menjadi pemain yang setia.

Ketajaman Beto, karibnya disapa, tak lekang oleh waktu. Hingga usianya menginjak 39 tahun, pemain naturalisasi berdarah Brasil ini masih mengemban predikat bomber haus gol.

Entah bagaimana menarasikan karier Beto pada tahun ini, yang pasti, ketajamannya di kotak penalti tidak mati. Pemain kelahiran Belem, Brasil itu masih mampu menorehkan tiga gol dalam tiga pertandingan bersama Madura United ketika kompetisi belum terhenti.

Catatan itu membuat Beto menjadi pemain Indonesia tersubur di musim ini dan berada di posisi dua top scorer sementara setelah terpaut satu gol dari bomber Persib Bandung, Wander Luiz.

Kata Data mencatat, Beto adalah penyerang kelahiran Brasil ini masuk jajaran bomber Liga Indonesia. Sejak 2009, pemain bernomor punggung sembilan di Timnas Indonesia ini telah membukukan 149 gol.

Jumlah tersebut juga membuat Beto menduduki peringkat keenam sebagai pemain dengan koleksi gol terbanyak di Liga Indonesia. Urutan pertama masih dikuasai oleh Cristian Gonzales dengan 249 gol.

Pada pengujung kariernya, mustahil bagi Beto untuk mengejar perolehan Gonzales. Namun, masih memungkinkan baginya untuk menggeser Kurniawan Dwi Yulianto yang berada satu posisi di atasnya. Keduanya berselisih 13 gol.

Adapun, Labbola merangkum, Beto adalah top scorer Liga Indonesia sewaktu berlabel Indonesia Super League (ISL) periode 2008-2014 dengan torehan 98 gol dari 160 penampilan.

Selain itu, Beto masih memimpin daftar perolehan gol Liga Indonesia di era Liga 1 sejak 2017 setelah mengemas 54 gol dari 88 laga.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *